Ulasan Pengajian Bulanan MIIS: Isra Mi’raj dalam Konteks Masyarakat Modern

Nuim

Oleh: AM. Sidqi

“Al-Quran harus dipandang tidak hanya sebagai alat dzikir, tetapi juga ayat-ayat pikir! Kita didorong terus untuk membuktikan. Baca! Pikir! Renungkan!” tandas Ust. Nuim Khaiyath membuka pengajian bulanan MIIS di Masjid Westall, 31 Mei 2014. Suara khas penyiar kawakan asal Medan ini menghangatkan dan memeriahkan keheningan Sabtu pagi yang dingin di hadapan sekitar tiga puluh orang warga MIIS nampak khusuk mendengarkan ceramah tentang “Isra Mi’raj dalam Konteks Masyarakat Modern” yang dipandu oleh moderator AM. Sidqi. Sesekali terlihat anggukan kepala para peserta pengajian bulanan MIIS saat Nuim Khaiyath memaparkan fakta-fakta sejarah dengan detail nan mencengangkan.

Peristiwa Isra Mi’raj menjadi salah satu terperistiwa penting dalam Islam, karena merupakan sejarah diturunkannya perintah sholat. Meyakini kebenarannya dengan penuh keimanan adalah suatu kewajiban bagi setiap muslim.

“Pertanyaannya apakah mungkin seorang manusia melakukan Isra sekaligus Mi’raj kurang dari satu malam di saat sepeda pun belum ditemukan?” Nuim bertanya dengan logat Melayu-nya yang khas. Menurutnya, bagi setiap muslim Isra Mi’raj memang sesuatu yang sudah selesai secara keimanan, tetapi untuk mendekati peristiwa itu dari sisi sains, kita perlu mengesampingkan pencapaian teknologi peradaban manusia. Dengan kata lain, peristiwa Isra Mi’raj sebaiknya dilihat dari bagian Islam yang komprehensif dimana pembuktiannya dari sisi sains memerlukan waktu, selain dari bukti kekuasaan Allah. Penemuan-penemuan dalam sains yang marak ditemukan pada akhir abad ini telah tertulis tegas di dalam Al-Quran. Pada masa ayat tersebut diturunkan terdengar tidak masuk akal, tetapi pembuktiannya dari sisi sains memerlukan waktu beberapa kurun abad hingga hari ini.

Sebagai misal, ketika Al Qur’an menyatakan bahwa adalah mudah bagi Allah untuk menghidupkan manusia kembali setelah mati, Allah sungguh berkuasa menyusun (kembali) setiap ujung jemarinya dengan sempurna. (QS Al-Qiyamah: 4). Maksud dari ujung jari dalam Al-Quran tersebut adalah sidik jari yang tidak ada yang menyerupai satu manusia dengan manusia yang lain. Selanjutnya dikenallah dactyloscopy, yaitu ilmu penggunaan sidik jari sebagai alat identifikasi yang sangat diperlukan pelaksana hukum modern.

Contoh lain terdapat pada QS. Al-Hadid: 25. Para ahli tafsir berselisih pendapat tentang penerjemahan frase “wa anzalna al-hadid,” yaitu “menciptakan/menjadikan” atau “menurunkan.” Mengapa Allah sengaja menggunakan kata “wa-anzalnaa (dan Kami turunkan)” bukan “wa-ja’alnaa (dan Kami jadikan/ciptakan)” atau wa-akhrajnaa (dan Kami keluarkan)? Penggunaan kata “anzalnaa” untuk besi sepadan dengan kata “anzalnaa” yang digunakan untuk air yang diturunkan dari langit dan juga kata “anzalnaa” untuk Nuzulul Qur’an. Penjelasan sains dari ayat ini baru terkuak pada akhir abad ini di mana bumi dan sistem tata surya tidak cukup panas untuk memproduksi atom unsur besi (Fe). Besi hanya dapat dibuat dan dihasilkan dalam bintang-bintang yang jauh lebih besar dan panas dari matahari. Ketika jumlah besi telah melampaui batas tertentu, bintang tersebut tidak mampu lagi menanggungnya, kemudian meledak melalui peristiwa yang disebut “nova” atau “supernova,” dan akhirnya menghujam ke bumi.

“…Dan Kami turunkan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia…” (Qs Al Hadiid : 25)

Islam agama paling pede

Selain membahas tentang Isra Mi’raj, pengajian bulanan ini juga memotret peringatan Isra Mi’raj yang berdekatan dengan peringatan kenaikan Isa Al Masih sebagai satu bentuk momentum toleransi umat beragama. “Bedanya Yesus naik tapi tidak kembali, Muhammad malah memilih kembali ke dunia,” ujar Nuim.

Selanjutnya, penyiar BBC kelahiran Medan 76 tahun yang lalu ini bercerita tentang dialog antara Fransiskus dari Asisi, seorang biarawan yang kemudian menjadi paus dan pendiri Ordo Fransiskan, dengan Sultan Malik al-Kamil di tengah kecamuk Perang Salib Kelima. Fransiskus diterima dengan baik di kemah Sultan Malik dan diizinkan berkhotbah tentang agama Kristen dengan perlindungan penuh hingga kembali ke markasnya. Selain itu, bagaimana Rasulullah SAW resmi melindungi hak kabilah Najran yang beragama Kristen untuk menjaga keyakinan, jiwa, dan harta benda mereka. Juga tentang surat perlindungan Rasulullah SAW kepada utusan dari Biara St. Catherine dari Sinai yang menjamin umat Islam “menjaganya,” “wajib bertempur demi mereka”, “hingga akhir zaman.”

Dari peristiwa-peristiwa tersebut kita bisa menarik hikmah bahwa Islam adalah agama yang pede luar biasa. Islam hadir bukan untuk membuat seluruh dunia beragama Islam, tidak perlu ada misi dari rumah ke rumah untuk mengislamkan orang lain. Menyebarkan kebaikan nilai Islam cukup dengan cermin perilaku dan tindak tanduk kita.

Sesi diskusi

Pada sesi diskusi mengemuka beberapa poin penting, antara lain tentang fenomena ketidaksesuaian antara Islam dengan tindak tanduk muslim di Tanah Air. Menanggapi hal tersebut, Nuim mengutip perkataan terkenal dari Muhammad Abduh (1849—1905), “Di Barat, aku melihat Islam tetapi tak melihat Muslim. Kembali ke Timur, aku melihat muslim, tetapi tidak melihat Islam.” Menanggapi fenomena tersebut, Nuim menjelaskan bahwa fenomena tersebut bukan hanya terjadi di dunia muslim, tetapi hal yang serupa juga didapati di komunitas Budha di Thailand, Katholik di Filipina, Hindu di India, dan lain sebagainya.

Namun satu hal yang jelas adalah hal tersebut bukan kewajiban kita untuk memikulnya sebagai umat, melainkan kesalahan pribadi, atau dalam istilah Melayu bukan “tangan mencencang bahu memikul.” Sebaik-baik contoh dalam Islam adalah pribadi dan kehidupan Rasulullah SAW.

“Satu persen saja kita bisa meniru kehidupan dan pribadi Rasul, itu sudah luar biasa,” ujar Nuim. Maka dari itu, Allah SWT saban hari melatih kita melalui sholat, puasa, Ramadhan, dan bentuk-bentuk ibadah lainnya.

Topik lain yang mengemuka dalam diskusi adalah tentang persatuan umat Islam, perdebatan mutakhir antara agama dan non-agama, dan konsep politik Islam. Pengajian bulanan MIIS ditutup oleh moderator dengan benang merah bahwa Islam adalah perbuatan sebagaimana jawaban Rasulullah ketika ditanya tentang Islam, maka beliau SAW menjawab dengan perbuatan/rukun Islam: sahadat, sholat, puasa, zakat, haji. Kemudian, Allah SWT berjanji akan menjaga Islam, tetapi bukan pribadi muslim. “Jika dibaratkan dengan lentera, minimal pribadi kita tidak menjadi jelaga bagi sinar lentera Islam,” pungkas moderator.

Akhirnya, kuah soto betawi yang gurih dan emping yang renyah betul-betul menjadi penutup yang super mantap pengajian bulanan MIIS pada Sabtu pagi di musim dingin itu. Many thanks to Ibu-ibu yang super keren! 😀

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s