Belajar Ber-Indonesia dari Kampung Clayton

Oleh: Fahd Djibran
Lir-ilir, lir-ilir, tandure wis sumilir
Tak ijo royo-royo, tak sengguh temanten anyar
Cah angon, cah angon, penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dododiro
Dododiro, dododiro, kumitir bedah ing pinggir
Dondomono, jlumatono, kanggo sebo mengko sore
Mumpung pandhang rembulane, mumpung jembar kalangane
Yo sorak-o sorak hiyo!
 
Siang yang terik di 16 Arnott Street, Clayton, tak begitu terasa meski suhu udara mencapai 320C. Orang-orang ramai berkumpul membagi senyum dan tawa mereka. Berbagai masakan khas Indonesia terhidang menggugah selera. Hari itu, 9 Maret 2014, masyarakat Indonesia yang tinggal di sekitar City of Monash, Victoria, Australia, tengah berkumpul untuk menyambut beberapa warga dan pelajar Indonesia yang baru datang dan akan menetap di sekitar Clayton untuk waktu yang cukup lama.
Saya berdiri di tengah-tengah acara itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Antara bahagia dan takjub. Bahagia karena saya merasa “pulang kampung” setelah sekitar dua bulan berada di Australia dan merasakanhomesickness. Takjub karena melihat pluralitas masyarakat Indonesia yang hidup di kota kecil pinggiran Melbourne ini begitu rukun dan harmonis. Meski mungkin sebenarnya ada saja konflik-konflik kecil yang terjadi di antara individu-individu dalam komunitas ini, tetapi siang itu gambar besar yang saya tangkap adalah tentang kebahagiaan dan kerukunan: Harmoni yang begitu Indah dari sebuah kelompok masyarakat yang mengidentifikasi dirinya sebagai Monash Indonesian Islamic Society (MIIS). Uniknya, meski “paguyuban” atau komunitas ini memakai nama yang mencirikan “masyarakat muslim Indonesia”, di acara itu saya bertemu dengan banyak orang dari berbagai latar belakang agama. Seperti aneka rasa dan warna makanan khas Nusantara dari berbagai daerah di Indonesia yang tersaji di acara itu, saya menangkap nuansa keberagaman dan inklusivisme yang kuat dari komunitas ini. Sesuatu yang barangkali justru jarang saya temui di kampung halaman di Indonesia.
Sekitar pukul 11.30, acara dimulai dengan sebuah sajian musik dari kelompok yang menemakan dirinya Orkes Jawi Waton Muni. Meski namanya “asal bunyi”, musik yang mereka sajikan sebenarnya tidak benar-benar asal bunyi. Dengan mengusung konsep orkes atau orkestra, mereka memadukan unsur musik moderen dan tradisional dengan cukup serius. Lagu pertama yang disajikan adalah Lir-Ilir, sebagaimana liriknya yang saya tuliskan lengkap di bagian awal esai ini, tembang karangan Sunan Kalijaga (dalam versi lain dikatakan diciptakan oleh Sunan Ampel) ini seolah memberi acknowledgment mengenai sedang di acara seperti apa saya hadir siang itu.
***
Sayup-sayup bangun dari tidur, pohon sudah mulai bersemi
Demikian hijau bagai gairah pengantin baru
Penggembala, tolong panjatlah pohon blimbing itu
Walaupun licin dan susah tetap panjatlah untuk mencuci pakaian
Pakaian yang koyak sisihkanlah
Jahitlah, benahilah untuk menghadap nanti sore
Mumpung masih terang rembulan nya,
mumpung masih banyak waktu luang
Mari bersorak-sorak, ayo…
Meski dirancang sebagai acara “kumpul-kumpul” dan “senang-senang”, sebenarnya acara seperti ini selalu memberi makna yang dalam bagi siapa saja yang menghadirinya—termasuk saya. Sebagaimana syair tembang yang diciptakan lima abad silam itu berpesan pada kita untuk “bangun” dari pingsan kesadaran, terjaga dari kelalaian-kelalaian apa saja untuk melihat realitas yang memanggil-manggil kita untuk berbuat.
Barangkali terasa sederhana ketika kita berkemas dan bersalin untuk menghadiri suatu acara semacam ini, seolah-olah kita bersolek untuk menyombongkan diri sendiri di hadapan orang lain yang akan kita temui. Tetapi setiap pertemuan sebenarnya selalu tentang “melihat orang lain” dan bukan tentang “memperlihatkan diri sendiri”. Sebab dengan melihat orang lain kita bisa melihat diri sendiri, tetapi dengan memperlihatkan diri sendiri kita tak bisa mencapai penyadaran diri. Maka pertanyaan “Apa kabar?” atau “Kemana saja kok baru kelihatan?” atau “Wah anakmu sudah besar, ya?” sebenarnya merupakan pertanyaan-pertanyaan introspektif yang pada saat bersamaan sedang kita tanyakan pada diri sendiri: Apa kabar saya? Kemana saja saya selama ini? Mengapa saya jarang (membawa anak-anak saya untuk) memelihara tali silutarihîm dengan teman dan sahabat saya?
Ya, acara itu, dengan berbagai keriangan dan kesemarakannya, memberi saya banyak penyadaran. Saya ingat sebuah puisi dari Aflaki dalam Manâqib Al-‘ârifîn yang memiliki makna yang hampir sama dengan pesan Lir-Ilir, bunyinya: Qum, qum yâ habibî, kam tanam. An-naumu ‘alal-âsyiq haram—Bangun, bangunlah kekasih, mengapa engkau tertidur. Tidur diharamkan bagi para perindu. Dalam versi lain dituliskan, ‘ajabâ lil-muhibbi kaifa yanâm, bagaimana bisa seorang pecinta tertidur? Rupanya frase “bangun dari tidur” memang merupakan sesuatu yang penting bagi kondisi batin seseorang. Untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik, tatanan masyarakat yang lebih baik, setiap individu perlu dibangunkan dari tidur panjang mereka masing-masing, diajak untuk menemukan kesadaran tentang dirinya dan menemu orang lain untuk melakukan kerja-kerja perbaikan—bahkan dalam syair Lir-Ilir dipertegas dengan bangunlah dengan gairah seorang pengantin baru.
***
Usai Orkes Jawi Waton Muni menyanyikan tiga buah lagu, acara dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua MIIS periode 2014. Saya yang terbiasa menyaksikan sambutan gegap-gempita dari para pejabat di gedung-gedung kementrian atau di kantor-kantor besar di Jakarta, tiba-tiba menyaksikan pemandangan yang asing dari apa yang ditampilkan ketua MIIS itu. Sosok ini tampil apa adanya, dengan kemeja batik yang biasa-biasa saja, menyampaikan pidato pendek yang kelewat sederhana berisi tiga poin utama: Selamat datang, terima kasih, dan selamat bersenang-senang. Itu saja. Dan memang itu yang ingin kita dengarkan; Bukan pidato-pidato panjang penuh retorika yang menjemukan.
Saya jadi ingin kembali pada syair tembang Lir-ilir, bagian kedua syair itu mengatakan: Penggembala, tolong panjatlah pohon blimbing itu / Walaupun licin dan susah tetap panjatlah untuk mencuci pakaian / Pakaian yang koyak sisihkanlah / Jahitlah, benahilah untuk menghadap nanti sore. Membayangkan apa yang terjadi pada tatanan masyarakat kita di Indonesia yang kita sadari bersama sedang “tidak baik-baik saja”, ibarat baju yang koyak di sana-sini, barangkali kita memang butuh figur pemimpin dengan karakter “penggembala”. Seseorang yang rela berkotor-kotor, kerja keras bertungkus-lumus untuk melayani masyarakat. Pemimpin dengan karakter penggembala seperti ini tak perlu pujian atau publikasi, sebab ia akan dengan penuh kesadaran mengerjakan apa saja yang perlu dikerjakan, mencuci dan menjahit baju nasionalisme yang kotor dan koyak, membenahi hal-hal yang perlu dibenahi, untuk memberi teladan bagi semua agar bersama-sama bisa menyongsong kebahagiaan.
Emha Ainun Najib (2008) pernah memberikan interpretasi yang sangat menarik mengenai bait syair ini, katanya,
“Kanjeng Sunan tidak memilih figur, misalnya Pak Jendral, juga bukan intelektual-intelektual, ulama-ulama, sastrawan-sastrawan atau seniman-seniman atau apapun tetapi cah angon. Beliau juga menuturkan ‘penekno blimbing kuwi’, bukan ‘penekno pelem kuwi’, bukan pula ‘penekno sawo kuwi’, juga bukan buah yang lain tetapi blimbing [yang] bergigir lima. Terserah apa tafsirmu mengenai ‘lima’. Yang jelas harus ada yang memanjat pohon yang licin itu, lunyu-lunyu penekno, agar belimbing bisa kita capai bersama-sama. Dan yang harus memanjat adalah bocah angon, anak gembala, tentu saja boleh siapa saja, ia boleh seorang doktor, boleh seorang seniman, boleh seorang kyai, boleh seorang jenderal atau siapapun. Namun dia harus mempunyai daya angon, daya untuk menggembalakan, kesanggupan untuk ngemong semua pihak, karakter untuk merangkul dan memesrai siapa saja sesama saudara sebangsa. Determinasi yang menciptakan garis resultan kedamaian bersama, pemancar kasih sayang dibutuhkan dan diterima oleh semua warna, semua golongan [dan] semua kecenderungan. Bocah angon adalah seorang pemimpin nasional, bukan tokoh golongan atau pemuka suatu gerombolan. Selicin apapun pohon-pohon tinggi reformasi ini sang bocah angon harus memanjatnya, harus dipanjat sampai selamat memperoleh buahnya bukan ditebang, dirobohkan atau diperebutkan. Dan air sari pati belimbing lima gigir itu diperlukan bangsa ini untuk mencuci pakaian nasionalnya. Pakaian adalah akhlak, pakaian adalah sesuatu yang menjadikan manusia bukan binatang. Kalau engkau tidak percaya, berdirilah di depan pasar dan copotlah pakaianmu maka engkau [akan] kehilangan segala macam harkatmu sebagai manusia. Pakaianlah yang membuat manusia bernama manusia. Pakaian adalah pegangan nilai, landasan moral, dan sistem nilai. Sistem nilai itulah yang harus kita cuci dengan ‘pedoman lima’.” (Renungan Ilir-Ilir, dalam album Menyorong Rembulan, 2008)
Tentu saja saya mendapatkan banyak pelajaran dari acara “kumpul-kumpul” di kampung Clayton ini. Dalam suasana yang ceria, orang-orang bercengkrama merayakan “waktu senggang” mereka dengan cara yang sungguh memesona. Tanpa melihat latar belakang etnis, agama, pendidikan, strata sosial, atau apapun saja, siang itu orang-orang merayakan dirinya sendiri sebagai seorang Indonesia: mumpung jembar kalangane, yok sorak-o sorak hiyo, mumpung masih punya waktu senggang, mari bersorak-sorak merayakannya!
***
Sebelum tiba di Australia, saya tidak pernah membayangkan bahwa saya akan menemukan masyarakat Indonesia dengan kebersamaan dan kehangatan seperti yang saya temui di Clayton ini. Tetapi yang paling menakjubkan buat saya adalah bagaimana komunitas ini merayakan waktu senggang mereka. Dalam acara BBQ dan kumpul-kumpul yang saya hadiri ini, bukan semata makanannya yang membuat saya betah dan bahagia, tetapi atmosfer keakraban dan persaudaraan yang terbangun di dalamnya. Atmosfer kebersamaan dan persaudaraan yang merefleksikan sebuah tatanan masyarakat yang dewasa (mature) dan siap melakukan progresi-progresi serta pencapaian-pencapaian kebudayaan yang lebih tinggi dan lebih baik. Saya melihat bagaimana masyarakat Indonesia di Clayton merayakan waktu senggang mereka dengan cara yang luar biasa.
Saya jadi ingin mengutip Irwin Edman (1896-1954), seorang filsuf asal Amerika Serikat, yang pernah menulis sebuah rumusan yang sangat baik tentang peradaban dalam bukunya yang berjudul The Philosopher’s Holiday(1938), katanya, “The best test of the quality of a civilization is the quality of its leisure.” Bagi saya, begitu menarik bagaimana Edman secara tepat memberi kita cara melihat kualitas sebuah peradaban melalui cara sekelompok masyarakat merayakan waktu senggang mereka. Di buku yang sama, Edman memberi penjelasan bagaimana kualitas waktu senggang yang baik—cara dan alasan waktu senggang itu dipergunakan—berkorelasi positif dengan kualitas sebuah peradaban (dalam konteks tulisan ini saya sedang ingin menempatkan kata “peradaban” sebagai cara saya melihat sebuah kelompok masyarakat: Hubungan antar manusianya, apa yang mereka ciptakan dan apa yang mereka capai dari hubungan-hubungan itu, serta apa yang menjadi dasar sekaligus rujukan bagi semua dinamika dan progresi yang tercipta dalam tatanan yang mereka hidupi dan hidup-hidupkan).
Barangkali sebagian di antara kita melihat waktu senggang sebagai sesuatu yang tidak terlalu penting bagi peradaban, mengingat konotasi frase “waktu senggang” atau leisure dalam Bahasa Inggris memang terlanjur melulu diasosiasikan dengan kemalasan atau aktivitas lain bersifat hiburan yang dianggap tidak terlalu penting bagi kehidupan. Tetapi jika kita melihat lebih dalam lagi, dengan perspektif yang lebih luas, kita akan mendapati kenyataan bahwa peradaban memang diciptakan dari waktu-waktu senggang. Musik, seni lukis, arsitektur, koreografi, seni pertunjukan, bahkan inovasi teknologi adalah beberapa hal yang bisa dengan mudah kita identifikasi terlahir dari rahim waktu senggang.
Di masa lalu, ketika manusia masih hidup nomaden dari satu wilayah ke wilayah lainnya, berburu dan mengumpulkan makanan sambil mempertahankan hidupnya yang bisa kapan saja dimangsa binatang buas, manusia tidak memiliki banyak waktu senggang. Sebagian besar waktu hidupnya hanya dihabiskan untuk berjuang mempertahankan nyawa dan memenuhi kebutuhan biologisnya. Namun, ketika manusia mulai mengenal tempat tinggal dan bercocok tanam, mereka mulai memiliki waktu senggang. Di sanalah mereka mulai menciptakan tarian, musik, graffiti, dan lainnya—sesuatu yang menjadi generator sekaligus motor kebudayaan manusia. Demikianlah, begitu pentingnya waktu senggang bahkan filsuf Inggris bernama Bertrand Russel (1872-1970) sampai merumuskan sebuah teori filsafat yang kini kita kenal dengan In Praise of Idleness(1935).
***
Demikianlah pengalaman saya berkumpul dan berbahagia di salah satu sudut kampung Clayton, di Arnott Street No. 16. Menghadiri acara itu saya bukan hanya menemukan banyak pelajaran, tetapi juga mendapatkan banyak teman dan saudara. Di sana, saya melihat harapan cerah bagi Indonesia di masa depan. Saya membayangkan suatu hari sebagian besar orang-orang yang saya temui di acara itu akan pulang ke daerahnya masing-masing di Indonesia, barangkali setelah mereka menyelesaikan studi atau dengan alasan apa saja, dan mereka menularkan spirit yang sama pada komunitas dan lingkungannya di manapun di Indonesia.
Seperti kita ketahui bersama, ada banyak problem yang perlu kita selesaikan tentang bangsa kita. Ada banyak koyak dari baju kebangsaan kita yang terlihat kotor dan perlu kita jahit serta bersihkan bersama-sama. Jika saya hanya berharap bahwa suatu hari orang-orang yang saya temui di Clayton, ketika mereka pulang, akan menyelesaikan berbagai persoalan bangsa, barangkali saya terlalu berlebihan. Tetapi jika kita melakukannya bersama-sama, sebagai sebuah bangsa, barangkali harapan itu tidak terlalu berlebihan: Saya di Clayton, Anda di Jakarta, Medan, Zurich, London, New York, Jeddah, Moskow, atau di mana saja, kita bisa bersama-sama, bahu-membahu, menyelesaikan berbagai masalah yang saat ini sedang dihadapi bangsa kita.
Tetamu terakhir sudah pulang ketika beberapa panitia membereskan sisa-sisa sampah acara kumpul-kumpul tadi. Ada banyak kenangan baik yang tercetak dalam ingatan saya, ada banyak gagasan yang beterbangan di udara yang ingin segera saya tangkap dan tuliskan.
Dari kampung Clayton, saya belajar banyak tentang ber-Indonesia.
Fahd Djibran
Penulis, Mahasiswa Program Pascasarjana Hubungan Internasional, Monash University, Tinggal di Clayton, Australia
Tulisan ini pertama kali muncul di tautan berikut:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s