ISLAM, IMAN DAN IHSAN

Arabic_1

Oleh: Endro Dwi Hatmanto*

“Salah satu ciri dari lemah iman adalah tak adanya ikhtiar dalam memperbaiki ibadah seperti tidak berusaha untuk memahami bacaan yang dibaca dalam shalat dan memahami isi Qur’an”, kata ustadz Gun Gun pada pengajian di Masjid Westall Ahad subuh kemarin.

“Niat hanya untuk Allah sangatlah penting dalam ibadah kita”, kata ustadz Agus Salim dalam pengajian yang sama.

Demikianlah, kita dituntut untuk menghadirkan diri dan melibatkan diri kita secara total dalam setiap jengkal ibadah yang kita lakukan. “We must attend it physically, psychologically and intellectually”, kata orang Inggris. Contoh, dalam mengerjakan ibadah shalat, secara fisik, kita mesti melakukan gerakan-gerakan shalat sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah. Secara psikis, jiwa kita khidmatkan bagi hadirnya niat yang ikhlas dari shalat kita hanya untuk Allah. Secara intelektual, makna bacaan-bacaan yang kita baca dalam shalat selaiknya dapat mengisi ruang kesadaran kita dalam berperilaku. Jika demikian, ikhtiar untuk memahami bacaan salam shalat harus senantiasa ditumbuhkan.

Inilah keindahan dari sifat “syumuliah” dari Islam. Islam begitu komprehensif sehingga menyediakan kesempatan bagi tubuh, jiwa dan intelek untuk tumbuh dan berkembang.

Sejatinya, totalitas dalam ibadah yang kita lakukan adalah refleksi dari pesan kesatuan antara konsep ISLAM, IMAN dan IHSAN. Islam adalah pengakuan kita untuk menjadi manusia-manusia yang berserah diri dan bersimpuh di hadapan Sang Khalik. Iman adalah lentera akidah, tempat kita menyandarkan niat kita dalam segala ibadah yang kita lakukan. Ihsan adalah pembuktian dari keislaman dan keimanan kita. Ihsan adalah amal prestasi yang merupakan refleksi dari klaim keIslaman dan keimanan kita.

Niat menjadi daya gerak spiritual dalam melakukan amalan fisik. Rasulullah bertutur, “Innamaal a’maalu binniyyaat…”. “Sungguh, setiap pekerjaan itu didasarkan atas niat dari sang pelaku” (HR. Bukhari Muslim). Imam Nawawi mengatakan bahwa niat merupakan ukuran untuk menilai keabsahan suatu amal. Ibnu Mubarak mengatakan, “Betapa banyak amal yang tampak sangat sederhana, tapi ia bernilai amat besar karena niat dari sang pelaku. Sebaliknya, betapa banyak amal yang amat agung, tapi nilainya menjadi sangat kecil di sisi Tuhan karena nita dari sang pelaku.

Jika demikian, marilah kita artikulasikan keislaman kita dengan diterangi oleh niat yang bersandarkan keimanan sehingga kita dapat membangun prestasi IHSAN dalam menyemaikan amal-amal kebaikan. Semoga kita benar-benar dapat menjadi MUSLIM, MUKMIN dan MUHSIN.

Photo credit : http://www.stockvault.net
*Mahasiswa PhD bidang Global Studies (Education), RMIT University, Melbourne. Pengurus MIIS perioda tahun 2013.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s