Umat Islam di Tengah Pusaran Politik

Catatan Ceramah & Diskusi “Posisi dan Peran Umat Islam Dalam Suksesi Kepemimpinan Nasional”
Bersama Dr. H. Haedar Nashir, M.Si & Dr. Muhajir Effendy
Sabtu, 1 Februari 2013, Masjid Westall, 130 Rosebank Avenue Clayton South, Vic 3169
Terselenggara berkat kerjasama IMCV, Masjid Westall dan MIIS

Oleh: AM. Sidqi

Apa yang paling enak dilakukan pada akhir pekan saat udara panas terik dan selepas makan siang? Mungkin tidur siang adalah pilihan yang mengasyikan. Namun tidak bagi jamaah Masjid Westall akhir pekan lalu. Meskipun udara di luar panas terik, sekitar 60 orang peserta acara tampak serius mengikuti ceramah dan diskusi dengan tema “Peran dan Posisi Umat Islam dalam Suksesi Kepemimpinan Nasional” pada Sabtu, 1 Februari 2014. Hadir sebagai pembicara para tokoh intelektual muslim Indonesia yang tengah berkunjung ke Victoria, yakni Dr. Haedar Nashir dan Dr. Muhajir Effendy, serta dimoderatori oleh AM. Sidqi.

Diskusi yang terselenggara atas kerja sama antara IMCV, Masjid Westall, dan MIIS ini mengambil tema suksesi politik nasional, mengingat pada tahun 2014 akan diselenggarakan pemilihan umum sehingga ramai dibicarakan khalayak sebagai tahun politik. Umat Islam sebagai mayoritas penduduk di Indonesia perlu mengerti dan tahu bagaimana menyikapi isu sensitif ini dengan bijak dengan tetap menjaga ukhuwah Islamiyah.

Pada sambutannya, Ketua IMCV, Bapak Ostra Saleh, menyampaikan kehadiran para tokoh intelektual sebaik mungkin dapat dimanfaatkan oleh warga muslim di Victoria sebagai ajang untuk saling bertukar gagasan dan berdiskusi tentang perkembangan umat dan Tanah Air. Selain itu pula, Ketua IMCV berharap agar kerja sama antara IMCV, Masjid Westall, dan MIIS dapat semakin kokoh di kemudian hari, serta tujuan dari diskusi ini dapat mencapai apa yang diinginkan.

Dr. Haedar Nashir memulai paparannya bahwa iman Islam adalah pengikat semua muslim yang paling kokoh dan paling dalam di atas semua kepentingan-kepentingan sesaat. Islam sebagai agama rahmat bagi semesta mementingkan keseimbangan dan pertautan antara hubungan seorang muslim dengan Allah (habum min Allah) dan sesama manusia (hablum min annas). Berangkat dari keseimbangan ini, dunia telah menyaksikan bahwa Islam merupakan kekuatan peradaban, agama kosmopolit dan mengglobal, serta agama kemajuan.

“Zaman kejayaan Islam adalah sekaligus periode keemasan dunia di saat peradaban Barat masih berkutat dalam pertentangan antara teosentrisme melawan humanisme sekuler pada zaman kegelapan Eropa,” ujar dosen Fisipol Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini.

Selanjutnya, konteks kepemimpinan profetik dalam Islam secara sederhana dapat dilihat dari praktik sholat, yakni terdapat imam, makmum, dan tata cara berjamaah. Seorang imam dipilih karena kemampuannya di antara para makmum. Layaknya bermasyarakat, imam dan makmum dalam sholat wajib mengetahui perannya masing-masing, serta terdapat hukum yang mengikat sehingga sholat berjamaah tersebut dinyatakan sah.

Berbeda ulasan Dr. Haedar Nashir yang konseptual, Dr. Muhajir Effendy membedah sejarah perjuangan umat Islam sejak zaman perjuangan kemerdekaan hingga reformasi.

“Ide demokrasi di Indonesia berasal dari umat Islam,” ujar pakar sosiologi militer tersebut. Umat Islam perlu mengingat dengan jelas bahwa semangat perjuangan mempertahankan kemerdekaan dari tangan penjajah tidak bisa dilepaskan dari fatwa pendiri Nahdlatul Ulama, KH. Hasyim Asyari, yang kini dikenal sebagai resolusi jihad.

“Fatwa Hadratusyaikh dengan tegas menyebutkan bahwa perang mempertahankan kemerdekaan dan membela Tanah Air adalah wajib bagi tiap-tiap muslim dan syahid apabila gugur di medan perang,” tandas Rektor Universitas Muhammadiyah Malang tersebut.

Para pemimpin Islam pasca kemerdekaan bersepakat akan pentingnya satu kesatuan umat Islam yang ditegaskan melalui Ikrar Malioboro pada 7 November 1945 bahwa hanya satu partainya yakni Partai Masyumi, satu organisasi pelajarnya yakni Pelajar Islam Indonesia (PII), satu organisasi mahasiswanya yakni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), satu organisasi pemuda yakni Gerakaan Pemuda Islam Indonesia (GPII), dah satu organisasi pandunya yakni Pandu Islam (PI). Ikrar persatuan ini merujuk pada fatwa pendiri NU, Hadratusyaikh KH. Hasyim Asyari, bahwa haram hukumnya partai Islam selain Masyumi. Namun kesepakatan itu berlangsung tidak lama karena pada 1948 (hanya satu tahun setelah Hadratusyaikh wafat), PSII keluar dari Masyumi untuk mendirikan partai politik dan disusul NU pada 1952. Dr. Muhajir Effendy menutup paparannya dengan mengutip Quran surat Asy-Syura ayat 38 bahwa Allah SWT menyejajarkan antara demokrasi/musyawarah dengan sholat dan zakat sebagai ciri-ciri orang yang beriman.

Pada sesi diskusi mengemuka perhatian audiens akan suksesi kepemimpinan 2014 yang akan dihadapi oleh bangsa Indonesia dan bagaimana sebaiknya sikap umat, kegelisahan akan tokoh partai-partai Islam yang terlibat pada kasus korupsi, serta kekalahan sejarah umat Islam dalam memperjuangkan tujuh kata pada Piagam Jakarta. Menanggapinya tanggapan-tanggapan audiens tersebut para pembicara mengajak bangsa Indonesia, khususnya para audiens, untuk membuka lembaran baru dengan jujur mengakui kesalahan-kesalahan parpol Islam dan para tokohnya di masa lalu.

“Indonesia hari ini adalah takdir Yang Maha Kuasa. Tugas kita adalah mengisi republik yang majemuk dan bersatu ini sehingga menjadi negeri yang baik dan selalu mendapat ampunan Allah (baldatun thayyibatun warabbun ghafur),” jelas Dr. Haedar Nashir yang disambut anggukan para audiens.

“Jangan dipikir seandainya tujuh kata Piagam Jakarta itu berhasil diperjuangkan, maka semua masalah umat selesai,” jawab Dr. Muhajir Effendy, “sebagai contoh lihat Malaysia dimana Islam sebagai agama negara, tetapi justru itu menjadi masalah kebangsaan di Negeri Jiran itu.”

Akhirnya, diskusi yang berlangsung selama sekitar dua jam itu ditutup dengan simpulan bahwa Indonesia adalah negara dengan mayoritas penduduk muslim dimana menjadi bukti nyata bahwa Islam dan demokrasi dalam berjalan harmonis dan kompatible. Sehingga tahun 2014 ini bukan hanya merupakan tonggak sejarah bagi bangsa Indonesia, tetapi juga hajat penting bagi umat Islam di seluruh dunia. Namun dalam menghadapi tahun politik ini, koalisi yang paling kokoh dan hakiki adalah koalisi berdasarkan iman. Dengan kata lain, ukhuwah Islamiyah harus senantiasa menjadi pengikat umat Islam di atas kepentingan politik praktis semata.

“Kejayaan yang digilir oleh Allah SWT di antara para bangsa seharusnya menjadi penyemangat bagi kita, khususnya warga MIIS, untuk merawat persaudaraan Islam dan idealisme sehingga kelak ketika kembali ke Tanah Air siap menyongsong kejayaan umat yang telah Allah janjikan itu,” pungkas moderator. Insya Allah.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s